Assalamualaikum wr wb,
Langsung aja ya!
Tadi sore aku survei TK untuk "my only daughter". Tadinya sich, nggak ada niat nyekolahin "dede". Secara, umurnya baru aja 3 ta'on. Cuma, karena harus ke Paragon, jadi mikir-mikir, rugi banget kalo cuma ke satu tempat, terus pulang. Jadilah bikin janji ketemuan sama guru di TK BIAS, di jalan Erlangga. TK ini lumayan terkenal loh, di Semarang. Stigma yang ada saat mendengar nama sekolah ini, sekolah elite untuk kaum berduit! Jadi penasaran, pingin buktiin sendiri.
Singkat cerita, begitu sampai di gang sekolah, ternyata portal ditutup. Supir taksinya sich, berbaik hati, menawarkan putar jalan, supaya aku bisa tiba pas di pintu gerbang sekolahnya. Tapi aku putuskan turun aja di depan gang, terus jalan kaki. Toh, deket, nggak ada 10 meter juga.
Begitu sampai di pintu gerbang, eit.. udah digembok dari luar. Gimana sih? padahal tadi aku kan udah nelpon, ngasih tahu lagi meluncur ke lokasi. So, aku telpon. Eh, ternyata aku yang salah tempat. Gurunya nunggunya di playgroup, yang letaknya kurang lebih 100 meter dari TK-nya(yang digembok itu). Jadilah kami (aku, Rafif-putra ku yang baru TK B dan Rahmah-yang mau didaftarin sekolah) jalan kaki lagi. Lumayan pegel, karena aku pake high heel. Untung mendung, alhamdulilah!
Nah, begitu sampai di depan gerbang playgroup, kami disambut ustajah (lupa nanya namanya). Ternyata sekolahnya tidak terlalu luas, tidak seperti bayanganku. Bentuknya lebih mirip rumah. Tiga kamar di dalam digunakan sebagai kelas dan ruang tidur siang. Satu kamar mandi besar, lengkap dengan shower dan toilet. Teras belakang untuk ruang makan, dapur dan ada kolam ikan. Garasinya dipakai untuk arena bermain indoor. Tapi permainan outdoornya juga tidak terlalu banyak. Dasar anak-anak, begitu lihat mainan, Rafif dan Rahmah langsung aja heboh. Untungnya bu ustajahnya paham aja sama kelakuan bocah-bocah lincah itu. Jadi selama aku ngobrol, mereka asyik aja bermain.
Sebetulnya aku sudah tahu sedikit dari temanku, yang pernah nyekolahin anaknya di situ. Walaupun akhirnya anak temanku itu mogok sekolah dan minta pindah. Mungkin bosan kali ya. Seperti aku bilang tadi, sekolahnya tidak terlalu luas.
Maka ustajah pun menerangkan visi misi dan kurikulum secara ringkas. Intinya mereka berusaha menerapkan pola didik, yang nantinya akan membentuk karakter anak menjadi mandiri, disiplin dan bertanggungjawab. Di samping penanaman akidah dan ahlak islami, yang menjadi dasar pendidikan di sini. Tanpa membebani si anak. Jadi anak tidak merasa sedang diajari. Di sini tidak ada punishment (untuk play group). Tapi memberikan reward, bila anak melakukan hal yang baik.
Untuk hapalan juz'amma, yang menjadi andalan mereka, ternyata tidak ditargetkan lulus hapal semua juz 30. Tapi, disesuaikan dengan kemampuan si anak. Ustajah juga tidak jumawa dengan hasil didik mereka. Dengan rendah hati, tanpa mengecilkan sistem didik mereka, ustajah menekankan pentingnya kenyamanan anak didik saat belajar. Karena playgroup dan TK adalah jenjang awal pendidikan formal, mereka ingin anak merasakan bahwa belajar itu menyenangkan. Untuk hal ini, aku setuju banget!
Yang terakhir kami perbincangkan, tentunya masalah biaya. He..he.. ini jadi salah satu poin penting. Ini rinciannya :
Untuk Playgroup :
Pendaftaran : 250.000
Orientasi (Layanan kbm orientasi,snack dan makan siang): 300.000 (TK, cuma 100.000)
Infak awal : 6.000.000
Jariyah tanah : 1.000.000
(Ini cuma dibayarkan sekali selama sekolah, dan boleh dicicil 3X)
Perlengkapan sekolah : perpustakaan : 250.000
administrasi : 80.000
tas renang : 90.000
VCD juz'amma : 15.000
Bantal : 90.000
(buat bobo siang, karena play group sekolah dari jam 08.00 - 15.00)
Buku gambar,trigrip : 70.000
seragam 2 stel : 315.000 (putera : 220.000)
Santunan kecelakaan siswa : 30.000 ( per tahun)
Praktek kunjungan lapangan & renang : ditentukan kemudian sesuai program sekolah
Acara family day : 400.000 (per semester)
Infak bulanan : 500.000
Makan siang : 300.000
Peraga penunjang KBM : 120.000
Kesehatan dan sanitasi : 80.000
Jadi total semuanya yang harus dibayar di awal kurang lebih 9.500.000.
Untuk TK, hampir sama, ditambah biaya kursi, busa tidur dan PKL, total di awal kurang lebih 11 juta-an.
Biaya di atas belum termasuk biaya menyediakan snack (bergiliran setiap hari).
Sebetulnya, termasuk wajar ya, karena yang cukup besar itu, cuma infak awal saja, walaupun bisa dicicil.
Tapi setelah ku hitung-hitung :
Untuk kasus anakku yang umurnya tanggung, saat awal semester baru 3,8 tahun. Masih kurang 4 bulan lagi untuk masuk TK. Jadi solusinya, 1 semester di PG, satu semester di TK A. Maka biaya yang aku keluarkan ;
Total seluruh biaya masuk TK : 11.000.000
Tambah paket play group : 900.000
Biaya rutin per bulan selama 24 bulan : 24.000.000
Biaya lain2 (BBM, iuran snack, iuran lain2) : 12.000.000
Aku harus punya dana kira-kira : 56 juta, kita bulatkan saja 60 juta untuk 2 tahun.
Hmmm, kira2 sebanding nggak ya, dengan apa yang akan di dapat anakku?
Dan apa bijaksana ya, menyekolahkan dia, di sekolah yang jaraknya lumayan bikin capek. Karena aku tinggal di Gunung Pati, sekolahnya di Simpang Lima. Jauh , dan yang pasti macet!
Jujur aja, aku malah gamang. Walaupun secara kurikulum dan pola didik mereka sejalan dengan yang aku inginkan. Tapi aku masih menyimpan impian, sekolah TK dengan halaman luas, dengan mainan outdoor dan indoor yang berlimpah, dengan guru-guru yang super sabar, dengan cara belajar yang menyenangkan, dengan staf-staf yang santun dan ramah, dengan ruang kelas yang memadai (tidak sempit dan sirkulasi udara lancar), dengan pondasi ke-ISLAM-an yang kokoh. Wow, banyak maunya ya!
Nggak apa-apa dong, namanya juga usaha!
So, kesimpulannya, aku kayaknya masih harus berburu sekolah impian yang tepat untuk puteri semata wayangku. Karena sekolah itu bukan hanya harus nyaman, aman, terjangkau, tapi yang terpenting, mampu membentuk pola awal yang tepat. Karena TK adalah batu pijakan pertama bagi anak-anak. Dan sangat tidak adil kalau kita menghancurkannya, hanya karena ego untuk memenuhi target, atau malah karena pamer status sekolah elite. Setuju, kan!